Mendung adalah Bunga

Jika mendung adalah bunga
Maka hujan adalah buahnya
Harumnya adalah kesedihan yang selalu  bisa kau peluk
Mekarnya adalah tangis yang menyirami dirinya sendiri
Jika mendung adalah bunga
Di bawahnya aku selalu merasa pulang.



Depok, 2018

 

Advertisements

Kita Minum Kopi di Bawah Dua Pohon yang Rimbun

Kau merasa sangat butuh minum kopi dibawah pohon yang rimbun,

Rasanya kau juga ingin membaca buku di teras tenda yang kau bangun di kaki gunung, sambil sesekali kau potret  buku apa yang sedang kau baca lalu kau unggah hingga tampak di linimasa.

Kau juga ingin memejamkan mata sambil merasakan angin yang menderu sambil duduk di bibir pantai.

Kau ke gunung, kau ke laut, sesaat kau tersenyum,

Namun semua kembali semerawut ketika akhirnya kau tersadarkan bahwa penat yang ada nyatanya bukan disebabkan oleh angin yang tak wangi, udara yang tak segar, ataupun ketidakcukupan kafein dalam darahmu. Melainkan kau hanya sedang kesepian. 

Setelah itu pula kau merasa hampa di setiap angin yang kau hirup, di setiap kopi yang kau teguk. 

Kau tau itu, namun bukan mencari teman malah membangun hubungan-hubungan kecil dengan seseorang yang juga sedang kesepian.

Tetapi bersyukurlah, sebab  kau akan mulai memahami lagi bahwa yang kau cari bukanlah cumbu dan rayu. 

Lebih dalam lagi, percayalah, kau hanya tengah kehilangan dirimu dalam hidupmu atau kehilangan hidupmu dalam dirimu.

Ini hanyalah prasangka belaka,  Jika kau tak terima dianggap demikian, biarlah aku saja, tak apa.

Aku merasa sangat butuh minum kopi dibawah pohon yang rimbun,

Rasanya aku juga ingin membaca buku di teras tenda yang aku bangun di kaki gunung, sambil sesekali ku potret  buku apa yang sedang aku baca lalu ku unggah hingga tampak di linimasa.

Aku juga ingin memejamkan mata sambil merasakan angin yang menderu sambil duduk di bibir pantai.

Aku ke gunung, aku ke laut, sesaat aku tersenyum,

Namun semua kembali semerawut ketika akhirnya aku tersadarkan bahwa penat yang ada nyatanya bukan disebabkan oleh angin yang tak wangi, udara yang tak segar, ataupun ketidakcukupan kafein dalam darahku. Melainkan aku hanya sedang kesepian. 

Setelah itu pula aku merasa hampa di setiap angin yang ku hirup, di setiap kopi yang ku teguk. 

Aku tau itu, namun bukan mencari teman malah membangun hubungan-hubungan kecil dengan seseorang yang juga sedang kesepian.

Tetapi seharusnya aku bersyukur, sebab  aku akan mulai memahami lagi bahwa yang aku cari bukanlah cumbu dan rayu. 

Lebih dalam lagi, percayalah, aku hanya tengah kehilangan diriku dalam hidupku atau kehilangan hidupku dalam diriku.

Bandung, Juli 2018.

Kebahagiaan dalam keheningan

Ketika kau telah menemukan purnama di suatu Ramadhan, maka tak lama lagi bulan itu akan segera habis. Lihat saja malam ini saja telah masuk ke malam ke-25. Semua orang (yang menjalani puasa dengan khidmat) akan selalu merindukan keheningan ramadhan di setiap harinya. Rasakan, bahwa setiap pagi pepohonan berwajah teduh, cahaya pagi menyapa lembut, burung burung berkicauan pelan pelan, warung-warung makan mulai bertirai, gerobak martabak serasa lelap di pagi hari, ah indah sekali. Meski demikian selalu ada orang-orang yang tak mampu merasakan keheningan itu kemudian selalu memilih gaduh di tempat kerja, di warung makan, di kendaraan dengan mengebut, bermain klakson, salip susul sana sini. Sungguh mereka sangat gaduh. Padahal pada setiap adegan-adegan yang muncul selama bulan ramadhan hampir selalu mengandung konten konten kebahagiaan. Dari sahur hingga sahur lagi.

Biasanya saat sahur pertama akan muncul keraguan keraguan kecil yang menanyakan pada diri sendiri, wah hari ini puasa ya? Gak berasa udah puasa lagi. Seperti mimpi. Di situ ada kebahagiaan. Kemudian jika bicara menu sahur pastilah sangat fluktuatif dari menu ramai hingga menu yang damai, telor ceplok. Di situ ada kebahagiaan. Kemudian makhluk makhluk kecil yang bisa disebut bocah, mulai memenuhi mesjid di waktu subuh dan isya. Meski mereka sangat gaduh, tetaplah sebuah kebahgiaan. Main dorong-dorongan, injak injak jari, teriak Aamiin seenak jidat, makan permen ketika solat, menunggu imam selesai alfatihah lalu baru memulai takbir untuk mempersingkat waktu berdiri, di situ ada kebahagiaan. Di antara kebahgiaan versi mereka ada yang paling kusukai, yaitu ketika semua jamaah bersujud, aku diam diam menahan berdiri sehingga aku orang yang terakhir dalam posisi belum sujud, itulah saat yang tepat untuk melihat lautan manusia bersujud dengan sesekali menengokkan kepala ke samping atau belakang. Indah sekali.

Di siang hari, air wudhu seperti lebih dingin dari biasanya, rasanya ingin berwudhu berlama-lama, di situ ada kebahagiaan. Menjelang berbuka jalanan menjadi ramai, di kiri dan kanan banyak jajanan, anak-anak remaja ngabuburit habis-habisan, menambah kesemerawutan jalan, di situ ada kebahagiaan.

Kawan-kawan lama mulai bersuara mengundang untuk buka bersama, makin banyak kau tergabung dalam perkumpulan maka makin padat jadwal bukber yang kau dapati. Dari geng sekolah TK hingga di perguruan tinggi, belum lagi kalau di masing-masing jenjang tersebut ada sub-perkumpulan lagi, ah repot sekali. Masalahnya dari sekitar 30 hari bulan ramadhan waktu yang biasa digunakan hanyalah hari sabtu atau minggu, paling tidak ada 6 hari yang bisa digunakan, 2 hari weekend terakhir seringnya tidak digunakan karena sebagian telah mudik ke kampung halaman. Di situ ada kebahagian. Namun berbicara masalah bukber, ada beberapa hal yang cukup mengganjal. Apakah setiap perkumpulan perlu mengadakannya? Apakah perlu rutin di laksanakan? Sejauh mana bukber itu dilandasi keinginan bersilaturahim dari pada formalitas atau bahkan sekedar memenuhi gengsi eksistensi sebuah koloni? Jawabannya ada di ujung langit. Bahkan mempertanyakan hal ini adalah sebuah kebahagiaan.
***

Di tahun ini aku memulai Ramadhan dengan sebuah persoalan. Bagaimana tidak, seingatku 1 ramadhan resmi di mulai di hari rabu petang. Rabu sore mulai hujan. Aku masih di kampus. Tak ada payung, tak ada jas hujan yang memadai, boleh dibilang penuh ketidaksiapan untuk seorang yang sedang berkelana di kota hujan. Menjelang magrib hujan tampak semakin deras. Sebagai mana lainnya, aku pun ingin melaksanakan solat tarawih pertama, demi feel ramadhan yang lebih baik. Namun aku bisa apa, aku terjebak hujan di sekitar parkiran motor dan gundah gulana entah ingin kemana. Setelah kupikir pikir, kondisi itu memang menyedihkan. Jaket basah sebagian, sepatu juga demikian, hanya tas kuupayakan agar tetap kering. Sayang sekali belum ada tempat solat yang dapat diakses di segala cuaca. Sempat terpikir untuk mampir saja di warung makan berteduh dan meninggalkan tarawih, ya tekadku bulat untuk tidak solat. Tetapi semesta tak sepakat, warung warung makan di sekitar jalan bararara hampir semua tutup, dan tekadku goyah. Kemudian akhirnya aku tiba-tiba memandangi toko pakaian ala-ala serba-serbi. Saat itu hujan semakin deras karena bingung mau kemana setelah upaya cari warung gagal akhirnya aku memandangi mbak-mbak yang sedang berjaga di toko pakain tadi, barulah terbesit ide untuk membeli payung. Namun tak semudah itu. Kira kira dari jarak sebrang toko 20 meter aku mengambil gerakan melambai lambaikan dua tangan persis seperti orang yang baru saja terdampar dipulau antah berantah. Setelah beberapa saat akhirnya mbak mbak toko menydari keberadaanku yang tampak sangat membutuhkan pertolongan. Setelah ia sadar aku tanyakan “mbak jual payung?” Namun tak kuucapkan hanya mimik mulut dan wajah yang penuh tanda tanya serta gerakan pantomim memegang gagang payung lengkap dengan gerakan membuka dan menutupnya. Setelah itu malam-malamku terselamatkan meski kedinginan sebab sebagian pakaian terlanjur basah. Adapun orang orang yang mengira bahwa aku sedang main kuis, tak kuhiraukan sama sekali. Di situ ada kebahagiaan.

Di penghujung ramadhan, hari-hari puasa semakin syahdu, namun beberapa orang tak sanggup memelihara kesyahduannya dan mulai memilih untuk menghabiskan malam di tempat tempat perbelanjaan dan hiburan. Seperti juga halnya aku yang mulai berencana untuk menyaksikan jurrassic world di bioskop-bioskop terdekat. Hmm. Selain itu ada juga suasana yang baru kutemui yaitu sebagian besar kawanmu mudik dan kampus menjadi sepi. Biasanya kaum tak mudik bukanlah minoritas, kini semua berubah. Ada yang mudik untuk sementara ada juga yang mudik benar benar untuk pulang. Ada dari mereka yang bersedih namun menutupinya dengan lelucon-lelucon harian. Memencar ke sekitar Jawa. Di situ ada kebahagiaa. Juga anak yang bercita-cita terbang ke Belanda akhirnya terbang juga. Di situ ada kebahagian, dan kesedihan. Tinggal aku yang menatapi daun-daun kering di parkiran motor, lorong-lorong yang sepi, dan laba-laba asing di bawah mikroskop. Sedikit getir, dan kayak ada perih-perihnya. Namun demikian aku yakin kebahagian kebahagian kecil lainnya akan segera tiba.

Akhirnya, semoga kau menemukan kebahagian-kebahagian kecilmu juga kawan.

Meski Memakai Nomor Dua Belas, Ia tetaplah Nomor Satu

Mei segera beranjak. Apa yang belum kuceritakan adalah tentang Ayahku. Sebab Supri–Motorku–diam-diam ia mengingatkanku soal hari lahir Ayahku. Tanggal 5 Lalu, bertepatan dengan habis masa pajak supri adalah hari ulang tahun Ayahku. Berati juga bahwa  ia telah hampir 10 tahun meninggalkanku sebab lebih dulu telah pergi kepada pelukan Allah. Mohon doanya.

photo6084382815228635180

meski nomor dua belas, tetaplah nomor satu

Kawan, meski memakai nomor dua belas, ia tetaplah nomor satu bagiku. bukan mempersoalkan di tim mana ia bermain,  skill apa yang ia punya, berapa gol yang ia cetak, atau sebanyak apa penggemarnya. bukan soal itu semua, sebab dia adalah ayahku. kegemaranku padanya mengalahkan kegemaranku pada Frank Lampard, Eden Hazard, dan Mohammad Salah.

Setelah ia pensiun bermain sepak bola, namanya tersohor di kampung sendiri dan beberapa kampung tetangga sebagai pelatih sepaka bola Rawa FC. kalau sedang melatih galaknya bukan main, kalau sedang mendampingi pertandingan ia selalu bawa obat darah tingginya sebab sering tak mampu menahan amarahnya. jika menang disanjung, jika kalah cukup tepuk tangan bersama-sama.

Latihannya di lapangan tengah rawa, itulah mengapa disebut Rawa FC. pemain dilatih menggiring, berlari di malam hari, berlari zig-zag, kadang gerakan samba, tak ada cone latihan digunakkan olehnya sandal-sandal atau ranting-ranting pohon sehingga membentuk pola sebagai lintasan lari para pemain. jika ada pemain yang malas pasti kena batunya, tak akan diturunkan dalam pertandingan sebagus apapun mainnya. Ia bilang, akan lebih baik menurunkan pemain yang rajin latihan. meski tak terlalu lincah asalkan masih punya kaki ia lebih berhak mendapatkan waktu bermain. terdengar galak sekali.

Penjaga gawang dibuat mampu loncat tinggi kesana kemari, pemain bertahan jadi mampu berlari secepat banteng, pemain sayap disulap memiliki umpan umpan darat dan udara yang brilian. Pemain depan dilatih tendangan super, dinamainya canon shoot, sekilas terdengar seperti merk mesin cetak.

Beberapa tahun melatih, ternyata pemain-pemain yang pernah dilatihnya telah menyebar dan sukses pada tim-tim ternama, terutama si pemilik tendangan Canon Shoot, Bang Muhsin. Sempat menjadi primadona di tim utama kota sendiri bahkan terbang ke tim lain, yang lebih pamor. mungkin itu sebabnya pada hari saat ayahku meninggal banyak orang-orang berwujud pemain bola datang, para tetangga sejenak terperangah sebab Em Robi, pemain liga utama, juga hadir melayat. akupun linglung melihatnya.

Meski begitu ada juga pemain yang nasibnya berbeda, pensiun bermain sepak bola kemudian beralih menjadi satpam di toko buku. aku pernah berpapasan dengannya, dan itu itu adalah momen yang canggunga karena aku tau namun tak mengenali namannya. banyak pemain bola yang bersinar di liga tarkam namun berakhir sebagai Security. Sayang sekali, tentu hal itu karena pemain liga tarkam sebagaian besar tidak memiliki lisensi resmi pemain, tidak berkuliah jurusan olah raga atau semacamnya. untungnya badan merek segar dan bugar sehingga dipercaya untuk bertanggung jawab soal keamanana di banyak Bank atau toko buku seperti yang kuceritakan.

Kawan, sesungguhnya aku tak terlalu meminati sepak bola, sehingga aku sering berkecil hati saat ayahku murung karena aku tak ingin bermain sepak bola. namun pernah pada suatu hari, saat aku diminta mencoba masuk ke dalam klub sekolah sepak bola Sport FC. saat itu aku melakukan gerakan seperti penari tanggo yang merupakan bagian gerakan pemanasan, ayahku cengengesan sebab aku lihai melakukannya, koordinasi tubuhku top katanya. sekali lagi saat dimulai latih tanding, aku melakukan umpan terobosan kepada pemain depan, ayahku tertawa bangga. setelah itu aku tak mendengar lagi sanjungan-sanjungannya.

Sesungguhnya aku tak terlalu memeperhatikan perkembangan karir kepelatihan ayahku, hingga pada suatu hari, saat aku masih ada di sekolah dasar, aku kebingungan melihat seorang yang mirip ayahku di sebuah gambar dalam surat kabar sedang mengangkat piala, ternyata ia adalah si nomor satu, Ayahku.

Catatan Perjalanan: Menelusuri Kerabat Beringin

Kawan, pada dasarnya aku senang mengabadikan momen-momen, lewat gambar atau tulisan. di awal masa kuliah aku sering membuat catatan perjalanan. Sayangnya  beberapa catatan tak segera ditulis ulang sehingga lenyap, seperti doctor strange yang hilang setalah Thanos menjentikkan jarinya. salah satu yang terselamatkan adalah tulisan dibawah ini, namun foto-fotonya tak ditemukan. catatan ini kubuat setelah ekskursi mata kuliah botani tumbuhan tingkat tinggi. 

CATATAN PERJALANAN FIELDTRIP BOTANI II, CIPELANG – JAWABARAT, 18 – 20 NOVEMBER 2011

Jumat, 18 November

Dengan semangat SEAGAMES 26TH JAKARTA – PALEMBANG, aku berangkat dari rumah pukul 05.30, jauh kesiangan dari rencana awal. Lama perjalananan sekitar 1 jam hingga aku sampai di kampus. setibanya dikampus, parkir motor, lalu pandangan penuh dengan raut ceria, ramai, meskipun selalu ada yang murung. Rupanya teman-temanku sudah berkumpul sejak lama. Yang tidak biasa, ada sejumlah panitia yang sedang melingkar di sebelah tronton ukuran sedang yang terparkir di samping GSG, nampaknya terjadi sedikit blunder, bahwa tronton yang datang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Bukan ukuran besar, melainkan ukuran sedang. Maka dua tronton yang telah terparkir dirasa kurang cukup untuk mengangkut semua peserta dan semua partisipan kuliah lapangan kali ini. Solusi yang paling mungkin dan simple adalah menambah satu unit tronton lagi dengan ukuran sama. Dengan itu semua dapat terangkut, meskipun memang biayanya agak membengkak.

Cukup lama kami menunggu hingga waktu keberangkatan, yang ditunggu adalah ibu Wita, selaku dosen pendamping. Setelah hadir, muncul juga Bapak Hanis yang turut serta dalam acara ini. Saat itu hadir juga beberapa alumni. Setelah semua berkumpul, acara dibuka untuk beberapa sambutan dan doa. Sekitar pukul 08.20 kami baru berangkat, menuju Cipelang yang penuh misteri.

Sekitar pukul 12.00 kami singgah di sebuah mesjid, semua laki-laki muslim melaksanakan solat Jumat, lainnya ada yang hanya beristirahat ada pula yang makan. Mesjid tersebut sudah dekat dengan tempat tujuan. Udaranya segar. Airnya dingin bukan main. Setelah melaksanakan agenda masing-masing semua langsung jalan kaki menuju tempat tujuan. Kecuali beberapa panitia dan barang-barang perlengkapan yang ikut tronton. Pukul 13.21 area mesjid sudah bersih dari  peserta dan barang-barangnya. Perjalanan dari mesjid ke tempat tujuan cukup jauh. Berat, naik berliku. Namun hati tetap senang sebab dihibur kebun teh yang membahana.

Setelah naik berliku tadi, kami sampai di tempat tujuan: Pondok Halimun, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cipelang, Jawabarat. Kami menyewa fasilitas berupa Aula, yang digunakan untuk tidur, diskusi, juga sebagai dapur. Terdiri dari dua lantai. Lantai bawah untuk tidur laki-laki, lantai atas untuk perempuan. Kamipun berbenah dengan sewajarnya hingga aula siap huni. Kesalahan dari kami yaitu tidak melakukan konfirmasi kedatangan kepada pihak pengelola, PANTHERA, sehingga sempat terjadi sedikit kesalah pahaman. Pesan moral: sebaiknya 1×24 jam tamu lapor.

Setelah aula beres, semua bersiap untuk melakukan observasi. Sebelumnya berkumpul untuk membuka acara, berdoa, dan beberapa sambutan: ketua panitia, aslab, Dosen Pendamping, Dan Pihak pengelola pondok. Saat itu titik titik air mulai turun, hujan pun terjadi, masing-masing mulai sibuk dengan ponco, raincoat, juga payung, obserasi tetap dilakukan

Aku tergabung dalam  kelompok suku Moraceae bersama Gogo, Ela, Upi, dan putriGogo. Pendamping kelompok kami adalah ka Oney, angkatan 2008. Saat itu beliau belum hadir, kabarnya akan datang saat malam.  Lalu kami melakukan observasi tanpa pendamping, mengamati tumbuhan sepanjang track khususnya tumbuhan suku Moraceae—penggetah putih ulung. Dengan berbekal buku panduan dan pengetahuan lain yang kami baca—lebih tepat yang Ela baca—dari berbagai buku botani, kami mencoba mengenali Moraceae lebih dalam. Yang teringat dibenak ketika mendengar moraceae hanyalah beringin dan Nangka saja. Maka sepanjang perjalanan observasi kami tidak—lebih tepatnya belum—melihat banyak suku moraceae. Ternyata kami belum mengaenal banyak ciri-ciri moraceae, selain getah putih dan bunga priuk pada marga Ficus. Diujung Observasi kami menemukan pohon Nangka yang begitu gagah tidak jauh dari tumbuhan tinggi Suku Fabaceae terbesar di tempat itu. Selain itu kami belum kenal lebih jauh suku Moraceae.

Hujan tetap deras, sepulang observasi kami kembali ke aula untuk beristirahat hingga menjelang waktu solat Maghrib. Kami pun solat, tak lupa Makan. Pengamatan Herpetofauna yang dijadwalkan saat itu diundur, sebab hujan tak mengizinkan. Setelah itu kami membentuk forum sharing bersama Alumni : Ka Jiji, ka Ali, dan Ka Mar. Selesai itu, sekitar pukul 21.00 kami tidur dengan tenang.

Tiba – Tiba ,  pukul 23.00 sesosok manusia mengahampiri ku saat terlelap, dengan perangai yang misterius, Ka Darius ! membangunkan ku untuk piket ronda. Maka dengan sedikit kantuk dan penyesalan aku terjaga demi keamanan. Sesekali aku melihat Anjing liar menuju aula, kembali pergi setelah disorot lampu senter. Pesan Moral: sebaiknya jadwal ronda disosialisasikan sejak awal, agar menumbuhkan keikhlasan.

Sabtu, 19 November

Pagi harinya, kami bersiap kembali dengan semua perlengkapan penelitian. Diawali dengan sarapan dengan masing-masing kelompok, kami juga disiapkan bekal makanan untuk diperjalanan nanti. Ka Oney ternyata suadah datang sejak malam. Kelompok kami pun menjadi lengkap. Setelah sarapan kami semua berangkat. Melaui jalur yang sama dengan jalur observasi namun hingga ke ujung jalan: Air terjun. Teknis perjalanan adalah, semua kelompok mencapai air terjun terlebih dahulu, sepulangya barulah mengambil data pengamatan. Cukuplah panjang jalur penelitian ini, konon merupakan jarak yang paling ekstrim sepengalaman kami: Biologi 2010. Pukul 08.30 kami baru sampai di air terjun, disambut Air deras yang sangat bertenaga. Sedikit mengabadikan momen dengan berfoto, lalu kami kembali untuk mengambil data di sepanjang jalur balik.

Belum lama berjalan, kami menemukan salah satu suku moraceae, lantas Ela mencatat deskripsi tumbuhan tersebut dan tak lupa Upi mengambil gambar. Kemudian cuplikan tumbuhan itu diberi label untuk kemudian dimasukan kedalam trashbag untuk dikumpulkan lalu dibuat sebagai herbarium kering. Dilihat dari buahnya, termasuk kedalam buah priuk. Maka sepengetahuan kami hal tersebut merupakan ciri dari marga Ficus.

Tak Jauh dari tempat ditemukannya jenis pertama, kami menemukan jenis serupa namun dengan ukuran buah yang lebih besar. Tindakan yang sama kami perlakukan terhadap jenis ini guna membuat herbarium.

Selanjutnya kami menemukan hingga kurang lebih 20 jenis yang—sepertinya—berbeda, dengan ciri-ciri bergetah putih, memeiliki stipula berbentuk tudung, biasanya pada Ficus bunga periuk dan ujung daun meruncing, maka dapat disebut bunganya termasuk bunga majemuk, bunga atau buah ada yang duduk pada cabang yang sama dan ada pula yang memiliki percabangan khusus, habitus kebanyakan pohon, ada pula yang epifit, permukaan daun bermacam-macap licin hingga kasap, mengkilap ada juga yang berambut. Namun yang disayangkan, kebanyakan jenis yang ditemukan adalah masih dalam usia muda dan tentunya steril sehingga sulit untuk diidentifikasi.

Selama perjalanan kelompok kami banya dibantu oleh ka Oney, juga hadir Ka Jiji serta ka Mar, keduanya ornitolog. Ka Jiji sering mengamati tumbuhan-tumbuhan apa saja yang sering dihinggapi burung pada umumnya, salah satunya suku moraceae, sehingga beliau mafhum benar karakter umum dari moraceae, dengan itu ka Jiji banyak membantu Kami.

Salah seorang anggota kelompok kami, sebut saja Gogo, entah punya permaslahan apa, terlihat jalan terburu-buru, sehingga ia cepat mendahului kami, jauh berada di depan kami. Jauh, sangat jauh.

Dalam perjalanan itu kami mendapat banyak jenis yang bercirikan suku moraceae, maka kami tak ragu untuk mencupliknya. Hingga pada suatu tempat kami menemukan pohon kondang yang sangat besar, disamping pohon Nangka yang tadi telah kuceritakan. Buah kondang ini juga merupakan suku dari moraceae, buahnya masak berwarna merah, bentuknya menarik seperti apel, serta dapat dimakan,  meskipun mengandung banyak getah. Ada Juga buah Nangsih, sangat menarik untuk dicicip bentuk buahnya menyerupai dadu-dadu kecil, rasanya manis sedikit masam. Akupun senang memakannya.

Tibalah kami di aula pukul 14.25 untuk istirahat, makan, dan solat. Saat itu muncul kembali perangai Gogo yang telah lama menghilang. Setelah itu kami mencoba mengidentifikasi jenis yang kami dapat. Adapun yang sanggup kami identifikasi adalah :

  1. Ficus ribes
  2. Ficus fistulosa
  3. Ficus vriegata
  4. Ficus sinuate
  5. Ficus asperiuscula
  6. Artocarpus heterophylus

Tak lama kemudian, forum presentasi dibuka, masing-masing perwakilan kelompok maju untuk presentasi. Perwakilan dipilih secara acak. Entah karena Gogo sangat gesit atau apa, Gogo terpilih mewakili kelompok kami. Semua peserta berkumpul di aula untuk saling berdiskusi.

Setelah peserta berdiskusi tentang temuan masing-masing, Ka Alexander—taksonom suku poaceae—menyamapaikan suatu sajian: klasifikasi sampah, cukup menarik, beliau mengumpulkan sampah dalam trashbag, dan menunjukan pada kami betapa masih banyak yang mengabaikan etika-etika lingkungan di lapangan. Begitu terkejut ketika mengetahui isi trashbag dari bungkus permen hingga teko, dan aku sangatlah tidak dapat membayangkan jika ada lemari es dua pintu didalamya.

Usai forum tersebut, semua menyiapkan jenis-jenis yang akan diawetkan, kemudian semua beristirahat dan bersih bersih untuk solat Maghrib dan makan malam. Pukul 21.08 sebagian dari kami melakukan pengamatan herpetofauna dengan kelompok-kelompok yang telah dibagi-bagi. Gogo kali ini tidak turut dalam pengamatan, maka ia mengurus pembuatan herbarium dengan ka Ain. Setelah pengamatan Herpetofauna, kami berdiskusi tentang tangkapan-tangkapan kami bersama Ka Dikdik dan Ka Trian. Hingga waktu menjelang larut kami berdiskusi, setelah itu kami tidur.

Pukul 01.08, seseoerang membangunkan ku, entah siapa, aku lupa, rupanya harus terjaga untuk ronda. Bersama Wondo, Gogo, dan Andiho.

Minggu, 20 November

Pukul 05.30 kami sudah mulai packing, sebagian piket menyiapkan sarapan. Ada pula yang bersih-bersih diri sebab belum mandi dua hari sebelumnya. Kami menikmati sarapan terakhir kami di Pondok Halimun. Mie instan ditambah nasi terasa cukup untuk jadi cadangan energi, susu cokelat hangat tak luput disikat.

Setelah sarapan kami bersama-sama melakukan operasi semut demi kebersihan pondok. Beberapa trashbag dikeluarkan sebagai wadah bagi sampah. Semua trashbag telah penuh dengan sampah dan dibuang ke tempat yang sewajarnya. Aku curiga salah satu trashbag itu berisi sampel-sampel moraceae yang belum teridentifikasi lalu terbuang begitu saja. Sebab hingga saat ini kami tidak melihat lagi sampel-sampel yang kami cuplik selama perjalanan.

Sekitar pukul 07.00 tiga tronton telah menjemput lengkap dengan sopir-sopirnya. Kami lantas segera mengemasi barang-barang dan menuju ke tempat tronton diparkirkan. Barang-barang dinaikkan kedalam tronton, begitu juga para peserta.  Barulah sekitar pukul 09.15 kami beranjak meninggalkan Cipelang menuju kampus tercinta, kampus Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta.

The Cicek Langgar

Sawangan, 10 Mei 2018

Sepertinya beberapa dari mereka lebih senang disebut cicek langgar daripada remaja musola atau istilah lain yang lebih bersahaja. mereka adalah remaja di lingkungan rumahku. Alhamdulillah mereka masih menyempatkan berkumpul setiap kamis malam untuk mendengarkan kajian meskipun dalam jumlah hadirin hadirot yang luar biasa, sedikit. sering aku merasa berdosa karena sedikit sekali berkontribusi untuk kepentingan peradaban di kampungku, salah satunya untuk memantau perkembangan mereka The Cicek Langgar.

Jangan kaget jika suatu  saat kau jumpai mereka mendengarkan kajian sambil minum kopi bahkan merokok. budaya itu cukup melekat pada nafas mereka. Akupun mafhum mengapa perkembangan mereka stagnan. ringkasnya sejauh ini kegiatan rutin mereka masih sekedar formalitas. kemungkinan besar mereka belum benar-benar memahami apa esensi dalam mengaji. Aku, tampaknya bukan orang yang berpengaruh di kalangan mereka. maka aku lebih memilih menyaksikan perkembangan mereka dari jauh. meskipun begitu pada beberapa kesempatan aku di minta memberikan sambutan sebagai orang yang dituakan. usia mereka relatif lebih muda kisaran usia SD hingga SMA, ada juga yang seusia denganku yang masih bertahan membimbing. Seperti tadi tiba-tiba aku diminta berbicara. langsung saja kucapkan basmalah kemudian salam. sebenarnya tanpa tau jelas arah pembicaraanku sempat kusinggung bahwa bulan ramadhan nanti adalah kesempatan kita untuk melakukan Push Rank ! (istilah dalam game kekinian mobile legend). mendengar ucapanku Bolank, Piun, Picky, Ale, dan Sance tersentak karena istilah itu akrab sekali dalam keseharian mereka seraya bergumam halus Master, Grand Master, Epic, Legend, Mythic. Akupun tersenyum ringan.

Sebelumnya Sandy dan Paras meneruskan kebiasan cekcok mereka meskipun acara telah dibuka. tenang kawan, bukan masalah serius hanya ledek meledek antar saudara ipar. namun secara mengejutkan paras yang masih bertugas sebagai pembawa acara mengundurkan diri dari kepengurusan. beberapa orang terkejut, sisanya tertawa-tawa lepas. bukan mengundurkan diri karena diledek melainkan mengikuti jejak ketua the cicek langgar yang lebih dulu mengundurkan diri. aku baru tau. amburadul. aku terkejut lalu tersenyum juga.

Kawan, tampaknya Paras memang cukup emosional. Semangatnya sering menggebu-gebu. beberapa kali pindah sekolah karena kabarnya sering bermasalah. di masa kecilnya aku sering sekali melihatnya dengan wajah yang cengengesan tak berhenti. beranjak SMP berani menyanyi di panggung organ tunggal pesta penikahan tetangga. para hadirin terkesima. dengan tegas ia meminta pemain organ mengirinya menyayi salah satu lagu Ariel. para hadirin tak sabar mendengarnya, akupun menganga menunggu ia masuk pada bagian lirik. tiba-tiba “dan terjadi lagi…..798t7q93 86798w5o4g hutpogst oqp5g u068q-wgq6gi.’ .;’.545758q65 8E%ETETW ERY%#^ $*%*^()*I_”. aku melanjutkan meminum teh.

photo6314166773905205227

Saat usia SMA ia dimasukkan ke pesantren, namun khusus untuknya boleh pulang setiap hari. oleh sebab ia pernah masuk pesantren, ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan bargaining position yang kuat. Bahkan ia senang sekali menyebut dirinya sebagai penggerak. baginya kata itu cukup berwibawa. sayangnya tidak seperti ia yang memandang dirinya sendiri begitu mewah, kawanannya tidak demikian. namun yang terpenting dia adalah dia paling semangat membimbing adik-adik generasinya. meskipun sering malah diolok-olok oleh yang lebih muda.

Acara malam tadi  sebenarnya adalah penutupan pengajian mingguan, dihadiri juga oleh Pak Ustad Empung. bagaimana tidak hadir, acara itu memang dirumahnya. setelah penutupan, Pak Empung menyuguhkan nasi liwet untuk dimakan bersama di atas daun pisang.

photo6314166773905205224

Tahun lalu, jerih payah mereka mewaranai gapura kampung dalam momen kemerdekaan diakui dalam 10 terbaik sepulau jawa. luar biasa. meski tadi kusebutkan mereka kusebutkan seusia SD bahkan Kuliah namun tak semua dari mereka masih sekolah. Akan tetapi mereka punya potensi. aku harap pada kesempatan mendatang aku mampu memfasilitasi meraka dalam berkarya, apapun itu. maka kawan, jangan lupa doakan aku, juga mereka.

Wassalamu’alaikum

Pendidikan yang Menyenangkan

Sawangan, 10 Mei 2018

Malam ini masih seperti kemarin, sesampainya di rumah akupun segera merebahkan badanku. sesungguhnya itu cukup, namun rasanya ada yang kurang. maka aku ulang, sesampainya aku di rumah akupun segera merebahkan badanku, kemudian scrolling linimasa beberapa media sosial. huft. sesungguhnya akupun telah jenuh dengan aktivitas di media sosial. aku yakin telah banyak yang menjadikan ini sebagai bahan nasihat bahwa kehidupan nyata lebih layak diurus daripada kehidupan maya. kurang lebih seperti itu. aku sebenarnya tak ingin sok-sok ikut menasihati, tapi aku jengah ketika melihat kawan-kawan yang sebenarnya berada di satu ruang saling berhadapan namun nyatanya pikiran mereka perpaut pada apa yang tidak benar benar ada di hadapan mereka: kisah dagelan kekinian, berita artis yang hampir cerai, berita artis yang hampir jadian, kisah anak-anak kecil yang sengaja atau tak sengaja dikomersilkan, dakwah-dakwah pilihan menjelang ramadhan, dakwah-dakwah tentang obat patah hati, adegan perempuan yang makan dengan porsi ekstra banyak, hingga tentang aktivitas positif pemuda-pemudi yang malah barbau riya kecil-kecilan, dan masih banyak lagi aku tak mampu menceritakannya karena terlalu banyak.

Sebelum aku pulang, Dewi dan Mas Gus masih asyik mengamati fragmen-fragmen tubuh dari serangga penyebab bentol-bentol pada tanaman. Aih mereka semangat sekali. sekalipun pada beberapa saat tadi dia hampir terpejam karena lelah namun ia tetap mendeklarasikan semangatnya, bahkan baginya, besok bukanlah hari libur. luar biasa. seingatku 10 Mei termasuk libur nasional. Ascension Day of Jesus Christ. namun aku bukan ingin berbicara soal itu melainkan hari penting sebelumnya. 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional.

Aku pernah sangat bersemangat mengucapkan ucapan selamat pada momen-momen pendidikan sperti hari pendidikan, hari guru, dll. Belakangan ini entah mengapa, aku tak terlalu antusias dengan perayaan-perayaan tersebut. sepertinya bukan karena aku tak bekerja di sekolah lagi. meskipun tidak bekerja sekolah, kurasa jiwa pendidikku masih sangat kental oleh sebab 5 tahun mengejar gelar sarjana pendidikan. Justru aku duga ini desebabkan oleh karena aku pernah menghadapi situasi-situasi yang menggelisahkan dalam dunia pendidikan, aku sedang apatis untuk hal-hal itu.

Hal yang paling menggelisahkan yaitu kau mengajar siswa yang tak tau mau ke mana, tak tau ingin membuat apa, tak tau ingin jadi apa. Tidak, aku sama sekali tidak menyalahkan mereka. Namun agaknya aku kesal pada sistem pendidikan yang ada atau bahkan juga pada keluarga yang tak benar-benar ‘menyekolahkan’ anaknya. Berapa banyak siswa yang datang menggebu-gebu karena sangat bahagia menjalani proses belajar? berapa banyak siswa yang datang ke sekolah dengan jiwa yang kosong? baiklah terlepas dari yang mana penyebab sesungguhnya, aku cukup muak. Guru, bisa saja mengatasi semua, merubah suasana kelas menjadi menyenangkan dengan berbagai cara. akan tetapi sampai kapan? berapa banyak waktu yang perlu disia-siakan oleh siswa yang tak benar-benar ingin mempelajari fisika? kimia? biologi?

Kawan, yang lebih memuakkan adalah ketika kau tidak diperkenankan memberikan penilaian yang orisinil karena bisa mengancam nama baik sekolah atau pejabat-pejabatnya. mungkin kau pernah mengalami kasus serupa. sebut saja sesoarang siswa bernama Kumbang, misal ia mendapatkan nilai yang buruk pada ujian mata pelajaran Ilmu Kaijulogy (tentu mata pelajaran fiktif) sehingga dia tidak lulus nilai standard. idealnya, dia perlu mengulang proses belajarnya dengan baik kemudian diberikan ujian ulang dengan metode penilaian yang sama. namun yang terjadi, ketika kumbang gagal dalam ujian, itu tak perlu menjadi masalah karena itu bisa dibayar dengan tugas-tugas yang tidak sesuai. contoh paling menjengkelkan adalah kumbang bisa langsung lulus asalkan mengerjakan tugas membuat ringkasan pada materi tertentu. tidak, aku sedang tidak menyalahkan guru sang pemberi tugas. dugaanku hal itu terjadi karena gurupun terpakasa karena harus sebisa mungkin meberikan nilai yang standard. hmm

sekilas keadaanya sperti itu, namun kuharap tidak dapat digeneralisir untuk semua sekolah. semoga saja. dan bagaimanapun aku masih sangat amatir untuk melakukan analisis secara komprehensif.

Yang jelas aku sedang ingin beristrirahat menghadapi hal-hal demikian. aku tau tulisanku barusan typo namun aku sedang tak ingin mengubahnya karena beristri juga baik. hmm. boleh diskip.

Kawan yang sebenarnya ingin kuutarakan yaitu selama siswa tidak menemukan kebahagiaan dalam proses belajarnya kurikulum semutakhir apapun menjadi omong-kosong. Siswa adalah manusia. maka yang (mungkin) terpenting adalah mengetahui bagaimana cara memahami manusia dengan baik.

Aku selalu mendambakan sebuah sistem pendidikan yang menyenangkan, yang pada proses pendidikan tersebut pengetahuan benar-benar dimanfaatkan untuk menambah gairah hidup dan meningkatkan peluang berbuat baik kepada sesama.

Semoga harimu baik dan terus membaik, selamat menikmati gerimis malam ini 🙂

Wassalamu’alaikum.